Senin, 16 Februari 2015

Imagination Island (Part 3)

BERTEMU PROFESOR Samar-samar terlihat sebuah ruangan yang aneh oleh Salsa. Karena baru sadar, penglihatannya masih kabur-kabur. Tapi, ia bisa melihat jelas seorang kakek tua yang di tabraknya tadi sedang berada di depannya, mengompres luka-lukanya yang sakit bukan kepalang. Akhirnya, Salsa bisa mengangkat kepalanya dari bantal. Akan tetapi, kakek tua itu mencegahnya. “Lukamu belum sembuh, kamu harus baring dulu,” ujar si kakek. “Apa yang terjadi? Uhh ... Dan, ini dimana?” tanya Salsa sambil terus memegangi kepalanya. “Tadi kamu menabrak Kakek. Untunglah kakek tidak kenapa-kenapa. Sayangnya, kepalamu terdorong sampai menabrak pedal sepeda yang keras, hingga mengalami geger otak yang ringan. Namun, jangan khawatir. Aku sudah membuat obat khusus agar kepalamu cepat sembuh.” Kakek itu menunjukkan sebuah obat yang di bungkus dalam suatu tabung. Salsa mengamati sang Kakek dalam-dalam. Sepertinya aku pernah melihatnya, pikir Salsa. “Profesor Husein?!” teriak Salsa kaget setelah menyadarinya. “Darimana kamu tahu namaku?” Kakek itu tertawa. “Aku pernah melihatmu di mimpiku. Aku ingin bertanya, apa kamu punya penemuan bernama Mesin Komik?” Semakin keraslah tawa Profesor Husein. “Hahaha! Mesin Komik? Seperti dalam khayalan saja! Menurutmu, apakah aku mempunyai penemuan itu?” Profesor Husein menguji Salsa. Salsa mengangguk keras. “Ya, aku yakin sekali, Anda punya benda tersebut. Katakan terus terang saja, Profesor. Anda tidak dapat membohongiku.” “Ya, baik ... baik ...! Aku jujur saja, aku memang mempunyainya. Namun, benda itu sudah rusak dan tak bisa di pakai lagi. Wajar saja, karena mesin itu aku ciptakan saat muda, Nak,” jelas Profesor Husein. “Kamu ingin melihatnya? Akan aku tunjukkan.” Pria tua yang kelihatannya berumur lima puluh tahun itu mengeluarkan sebuah kotak dari bawah mejanya. Dari kotak itu, ia keluarkan sebuah benda seperti printer. Persis seperti dalam mimpi Salsa! “Benar! Itu dia bendanya! Aku melihat benda itu dalam mimpiku!” seru Salsa girang. Sejurus kemudian, kepalanya kembali mendenyut. Ia langsung memegangi kepalanya itu. “Sudah, istirahatlah dahulu,” ucap sang Profesor. Ia taruh kembali benda itu dalam kotak seperti semula. “Lagipula, benda ini sudah rusak. Tak ada gunanya lagi.” “Tu-tunggu, Profesor ... Ugh ..., a, aku bisa membetulkannya ...,” kata Salsa dengan terbata-bata karena kepalanya makin sakit bukan kepalang. “Bisa? Sungguh? Kalau kamu bisa, akan aku hadiahkan benda ini padamu,” janji Profesor. Salsa mengangguk yakin. Tapi sebelum ia membetulkannya, Salsa ingin ia di beri obat peringan kepalanya lagi. Profesor pun memberikannya. Setelah meminum obat tersebut, Salsa bisa berjalan. Tapi, ia harus hati-hati. “Aku ingin alat-alat perkakas, seperti obeng, paku, dan gunting. Juga lem dan beberapa baterai,” pinta Salsa. Kemudian, alat-alat yang diinginkan Salsa di ambil oleh Profesor. “Ini dia.” Profesor meletakkan alat-alat itu di samping Salsa. Dengan sigap, Salsa meraih obeng lalu membuka tutup dari bagian dalam dari Mesin Komik tersebut. Lalu ia membetulkan kabel-kabel yang sudah miring-miring dan lepas dari tempatnya yang semestinya. Kabel dan benda dalam mesin lainnya yang copot-copot atau lepas-lepas di lemnya. Ia bisa mengerjakannya karena belajar dari ayahnya. Ia sering melihat ayahnya melakukan ini jika membetulkan penemuannya yang rusak. Dalam waktu setengah jam itu, Salsa bekerja dengan keras sampai mengeluarkan banyak keringat. “Sudah, Profesor. Benda ini pasti bisa bekerja kembali. Cobalah,” ucap Salsa meyakinkan. Alis Profesor naik sebelah dan tersenyum. Kemudian, beliau memencet salah satu tombol berwarna ungu. Dan ... muncul sebuah tulisan di monitor : Mengeluarkan Komik Magic World. Melihat tulisan yang muncul di monitor, Profesor Husein sangat terkejut. “Be, benda ini benar-benar pulih kembali! Kamu hebat sekali ...,” Tiba-tiba, Profesor berhenti ngomong, kelihatan bingung, “Ngomong-ngomong, siapa namamu, Nak?” “Ayah menamaiku Salsa, Prof.” Profesor tersebut menopang dagunya, seperti berpikir. “Salsa ... Salsa, ya. Sepertinya aku ingat nama ini. Tapi entah apa.” “Yasudah, lupakan. Kamu hebat sekali, Salsa! Dari mana kamu bisa membetulkan ini? Apakah kamu Profesor juga? Atau cita-citamu menjadi penemu? Atau kamu calon Ilmuwan?” berbagai pertanyaan di lontarkan sang Profesor. Salsa menjawab semua pertanyaan itu dengan menggeleng. “Ayahku yang mengajariku. Ia adalah seorang penemu juga, sama seperti Anda.” “Ooo ...” Kemudian, mereka berdua pun asyik mengotak-atik “Mesin Komik” itu. Salsa puas sekali membaca komik-komik yang sangat menarik itu. “Oooh! Ooooh! Aku ingat ini! Ini komik yang kubuat sewaktu SD dahulu! Hahaha ... Kangen sekali aku dengan masa-masa itu. Sudah lama aku tak membacanya!” seru Profesor Husein dengan heboh saat mendapat komik yang berjudul Imagination Island. “Imagination ... Is … Land? Pulau Khayalan?” tanya Salsa heran ketika membaca judul komik yang sedang di pegang oleh Profesor. “Iya. Sejak kecil, aku suka sekali mengkhayal dan berimajinasi. Lalu, aku mendapat ide ketika akan mengarang sebuah komik, teringat akan hobiku yang suka berimajinasi. Bacalah buku ini kalau kamu mau,” tawar Profesor seraya menyodorkan buku komik yang tebalnya empat senti. “Tebal sekali! Anda yang membuat ini semua?” Salsa berdecak kagum lalu membuka kover buku tersebut. “Iya. Namun, aku membutuhkan waktu sebulan. Tanganku capek betul saat itu. Sampai-sampai di panggil tukang pijat ke rumah,” Profesor bercerita sambil tertawa. Salsa mulai membacanya. Gambar Profesor Husein bagus sekali. Ceritanya pun seru. Setengah jam pun Salsa belum selesai membaca buku yang sangat tebal itu. “Oh, ya, aku harus menyiapkan makan malam dahulu,” pamit Profesor hendak pergi. “Lho, istri Anda?” Salsa heran. “Hahaha ... Aku belum menikah,” Profesor tertawa. Salsa juga ikut tertawa kecil. Ia menatap profesor yang keluar dari kamar. Benar-benar mirip ayah! Akhirnya, saat makan malam tiba, Salsa selesai membaca buku itu. Menurut Salsa, ceritanya sangat bagus. Saking asyiknya bermain di rumah Profesor, Salsa jadi kelupaan orangtuanya. Ia baru teringat saat usai makan malam. “Tenanglah. Orangtuamu takkan cemas. Aku sudah berbicara pada mereka tadi, saat bertabrakan denganmu. Mereka mengizinkan agar kau menginap semalam disini,” jelas Profesor Husein setelah Salsa protes. “Hhh ... Syukurlah ...” Salsa menghela napas lega. Takut ayah-ibunya khawatir. “Akan kubantu cuci piring,” Salsa menawarkan dirinya untuk menolong Profesor. “Oh, jangan ... jangan ...! Kamu baru saja sehat. Duduk saja. Meski sudah tua, aku masih sehat akal dan jasmani, lho!” sergah Profesor sambil bercanda. Salsa terkikik kecil dan kembali bersandar di sebuah kursi empuk. “Oh, ya, ngomong-ngomong, Salsa, kan, sudah selesai baca buku yang berjudul Imagination Island, bukan? Bisa ceritakan cerita yang ada di dalam buku itu?” pinta Profesor yang sedang mencuci piring. “Lho, bukankah Anda yang membuat ceritanya? Harusnya, Anda tahu, kan, ceritanya bagaimana?” tanya Salsa menggoda Profesor. “Aku kan, sudah lupa! Sudah, ceritakan!” Profesor tersenyum. “Baiklah ...” Salsa mulai bercerita. “Ada seorang gadis kecil bersama seorang kakek tua yang tinggal di sebuah rumah. Suatu hari mereka di tarik oleh sebuah cahaya dari sebuah buku dongeng, saat hendak tidur. Lalu tiba-tiba mereka berdua berada di sebuah pulau yang aneh. Mereka baru tahu sebuah penjelasan dari seseorang, bahwa pulau yang mereka injaki saat ini bernama Pulau Khayalan. Dan di Pulau Khayalan, apa yang mereka khayalkan, akan terjadi. Jika kita mengkhayalkan punya rumah baru, maka akan terjadilah.” “Lalu, gadis kecil dan kakek tua itu berkhayalkan bisa keluar dari Pulau Khyalan itu. Tapi, tidak ada yang terjadi. Mereka heran, kenapa khayalan mereka tidak terwujud. Saat mereka bertanya pada seseorang tentang hal tersebut, mereka pun tahu, bahwa siapa yang sudah masuk ke Dunia Imajinasi, tidak akan bisa pulang ke dunia yang sebenarnya. Gadis itu ingin berjumpa dengan orangtuanya. Hanya satu cara yang bisa menyelamatkan mereka, yaitu pergi ke Dunia Monster dan melawan Raja Monster. Akhirnya, mereka bisa kembali ke dunia yang sebenarnya. Saat sudah dewasa, gadis itu menjadi seorang Ilmuwan yang hebat, lalu mengubah Dunia Imajinasi dan Dunia Setan menjadi Dunia Kebahagiaan. Disana tak ada yang tertindas, semuanya hidup bahagia ...” Salsa selesai bercerita. “Hmmm ... Sepertinya menarik. Setelah ini aku mau bacanya, ah!” ujar Profesor bertekad. Beliau mengelap piring lalu menaruhnya di rak piring. Salsa senyum-senyum mendengar ocehan Profesor Husein. Tapi, ia tidak tertarik pada ceritanya. Ia ingin tahu kenyataan dalam cerita itu. Andai saja aku yang jadi gadis itu ... harap Salsa dalam hati. Usai mencuci piring, Profesor menyuruh Salsa agar tidur. Sedangkan Profesor itu hendak membaca komik Imagination Land. “Oh, Profesor … Bisakah Anda membacakanku cerita itu sebelum aku tidur?” Salsa memohon. “Baiklah …” Profesor yang hendak menyalakan lampu belajarnya, akhirnya memindahkan kursi belajarnya di samping tempat tidur Salsa. Profesor mulai membacanya. Akan tetapi, tiba-tiba … Muncul secercah cahaya yang amat menyilaukan dan memenuhi ruangan. Tanpa disadari, Salsa dan Profesor Husein ditarik oleh cahaya itu ke dalam buku!!! *** By Dinan ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar